Getting Older…

“Semua orang ingin berumur panjang, namun tidak ingin menjadi tua”

Yaa..  setiap orang  tidak ingin menjadi tua, kalaupun tua, setiap orang ingin tetap sehat di usia tuanya. Menjadi tua dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan karena tiada lagi kulit yang mulus, otot yang kuat, mata yang jelas memandang, telinga yang tajam mendengar,  postur yang tegap dan berbagai fungsi tubuh lainnya yang akan mengalami penurunan.

Adalah gerontology yang mempelajari aspek sosial, psychological dan biological dari proses penuaan. Cabang dari gerontology dalam dunia kedokteran/kesehatan adalah geriatri yaitu mempelajari penyakit-panyakit orang tua atau penyakit penuaan. Gerontology adalah multidisiplin ilmu, seperti yang diungkapkan oleh Hoymaan (2011) dalam Social Gerontology yaitu “Gerontologists include researchers and practitioners in the fields of biology, medicine, optometry, dentistry, social work, physical and occupational therapy, psychology, psychiatry, sociology, economics, political science, architecture, pharmacy, nursing public health, housing and anthropology”

blogMenurut Constantinides yang dikutip oleh Darmojo (2011), menua (=menjadi tua=aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak bisa bertahan terhadap gangguan/penyakit (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.

Dengan begitu manusia akan kehilangan daya tahan tubuhnya secara progresif terhadap penyakit dan infeksi dan akan semakin banyaknya penumpukan distorsi metabolik dan struktural yang disebut dengan “degenerative disease” atau penyakit degeneratif seperti hipertensi, aterosklerosis, diabetes mellitus dan kanker.

Untuk menjelaskan proses menua sangatlah kompleks karena merupakan kombinasi dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Ada beberapa teori penuaan yang dipakai sebagai acuan, beberapa diantaranya adalah teori “genetic clock”, teori mutasi somatik (teori error catastrophe), teori sistem imun, teori metabolisme dan teori radikal bebas.

Menjadi tua, adalah suatu proses yang pasti akan dialami oleh setiap orang. Menua tidak dapat kita hindari, yang dapat kitala kukan adalah mengusahakan menjadi tua yang produktif, sehat dan berkualitas. Seperti yang diungkapkan oleh Maurice Chevalier “Old age isn’t so bad when you consider the alternative.”  🙂

When you’re five, you know your age down to the month. Even in your twenties you know how hold you are. I’m twenty-three, you say, or maybe twenty-seven. But then in your thirties something strange starts to happen. It’s a mere hiccup at first, an instant of hesitation. How old are you? Oh, I’m–you start confidently, but then you stop. You were going to say thirty-three, but you’re not. You’re thirty-five. And then you’re bothered, because you wonder if this is the beginning of the end. It is, of course, but it’s decades before you admit it.

SARA GRUEN, Water for Elephants

 

By : Yulisnamutia

Advertisements

Boneka Koala ku..

Kuliah di luar negeri dan itu di Australia, merupakan impian saya sejak kecil. Bermula dari seorang tante yang kuliah di salah satu university di Sydney dan dia menghadiahi saya sebuah boneka koala mungil dengan gaun berwarna pink saat saya berusia 10 tahun. Dari boneka tersebutlah, impian demi impian telah terrajut. Boneka koala yang selalu memberikan saya inspirasi untuk “suatu saat saya harus ke Australia”. Dan alhamdulilah, my dream becomes true.. sekarang saya berada di Australia untuk menyelesaikan program Master jurusan Gerontology and Rehabilitation Studies di University of Wollongong, New South Wales dengan beasiswa Dikti.

Setelah menyelesaikan SMA, saya merantau dari tempat kelahiran saya di Pontianak ke Surakarta pada tahun 2005. Saya mengambil jurusan Fisioterapi di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pengalaman merantau yang saya rasakan begitu challenging karena saya tidak memiliki keluarga di Surakarta. Namun begitu pula itu saya rasakan begitu indah dan becoming the valuable experiences karena sebelumnya saya yang manja dan ‘ringkih” (gampang sakit) akhirnya bisa belajar untuk mandiri dan lebih kuat. Di akhir masa studi selama hampir 1 tahun saya harus berpindah ke sekitar 14 rumah sakit untuk praktek klinis/coas dan mungkin itulah masa-masa saya mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman mulai dari bertemu pasien di berbagai daerah hingga dituntut harus bisa menjadi sosok yang cepat beradaptasi di lingkungan baru.

Setelah menyelesaikan studi s1, mungkin kerabat dan keluarga akan mengira saya kembali ke tanah kelahiran, mengabdikan diri disana dan berkumpul kembali bersama orang tua dan keluarga. Namun mimpi dan harapan yang sangat kuat, saya ingin melanjutkan s2 di Australia, itu yang saya katakan ke orang tua saya. Dengan restu dari orang tua, setelah lulus kuliah, saya menyusun strategi awal yaitu mendalami bahasa inggris, 1 hal yang sangat penting sebagai bekal untuk bisa diterima dan survive mengenyam pendidikan di luar negeri. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar bahasa inggris di “Kampung Bahasa Inggris Pare” Kediri selama sekitar 3 bulan sambil mencoba apply ke University of Wollongong. Entah mengapa, sejak pertama saya sangat tertarik dan yakin dengan University dan jurusan ini, saya tertarik dengan active aging life dimana  di Indonesia masih dibutuhkan perhatian yang lebih untuk meningkatkan wellbeing kaum lansia. Dan saya salah satu tipe orang yang sangat keras kepala ketika saya sudah menjatuhkan pilihan kepada satu hal yang menurut saya sesuai dan saya yakini. Setelah selesai dari mendalami bahasa inggris, Alhamdulillah saya diterima bekerja menjadi seorang dosen junior di jurusan dan fakultas di mana saya menuntut ilmu sebelumnya. Dan harapan saya semakin kuat karena pemerintah Indonesia menyediakan beasiswa untuk para dosen untuk studi s2 dan s3 ke luar negeri.

Proses saya untuk mendapatkan beasiswa mungkin tidak terlalu panjang seperti cerita beberapa orang rekan yang telah mencoba mendapatkan beasiswa dikti maupun beasiswa dari pemerintah Australia seperti ADS, ALA dsb. Itulah yang membuat saya pada awalnya merasa kurang yakin dan sebagainya, saya merasa terlalu dini dan belum memiliki pengalaman berburu beasiswa, ditambah lagi alokasi beasiswa dikti untuk para dosen pada tahun 2011 lebih diprioritaskan untuk s3 sedangkan saya mendaftar untuk program s2. Namun saya lalu berfikir, apabila saya tidak mencoba, bagaimana saya akan tahu dan belajar akan sebuah pengalaman. Akhirnya saya memasukkan berkas aplikasi pendaftaran beasiswa saat saya telah 1,5 tahun mengajar, dan singkat cerita alhamdulillah saya dipanggil wawancara. Yang paling saya ingat pada saat wawancara adalah salah satu pertanyaan interviewer mengenai usia saya “How old are you?”.. “I’m twenty three years old” jawab saya.. “Really?? You’re too young.. if we give you this scholarship, are you sure that you can deal with everything over there? Sepertinya sang interviewer meragukan usia saya.. “Yes, I will.. For sure..I’m strong enough and very adaptable..” jawab saya dengan yakin.

Ternyata atas berkah dan ijin dari Mahakuasa, saya mendapatkan kepercayaan untuk menerima amanah berbentuk beasiswa ini. Berawal dari mimpi seorang bocah kecil yang ingin membeli sendiri boneka koala kesayangannya di Australia dan berkembang menjadi semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, Alhamdulillah semua mimpi itu terwujud. Namun ini bukanlah akhir dari segala mimpi saya, saya akan terus menjadi seorang pemimpi, memimpikan hal hal yang menjadikan saya menjadi pribadi yang lebih baik tentunya. Semoga bermanfaat.. 🙂